Entry: Who Moved My 'Minyak Tanah' Saturday, August 25, 2007



Alkisah ada empat orang anak manusia yang terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Sniff dan Scurry, sedangkan kelompok keda terdiri dari Hem dan Haw. Masing masing dari mereka mimiliki sifat yang unik. Sniff mampu mencium adanya perubahan dengan cepat. Scurry mampu untuk segera bertindak mengambil keputusan. Hem selalu menolak serta mengingkari adanya perubahan karena takut perubahan akan mengakibatkan sesuatu yang buruk. Haw baru mencoba beradaptasi jika melihat perubahan mendatangkan sesuatu yang lebih baik.

Mulanya mereka berempat adalah pengangguran. Menggeluti hidup yang penuh kegelapan dan ketidakpastian. Tapi akhirnya kini mereka semua telah bekerja. Kebetulan pekerjaan mereka sama, yaitu sebagai pengecer minyak tanah.

Apa yang mereka lakukan?

Hem dan Haw : setiap hari menjual minyak tanah dari agen ke konsumen, mulai bangun lebih siang dan nyaman dengan keberhasilan usahanya sekarang, merasa semua itu adalah hasil kerja kerasnya, tidak sadar bahwa minyak tanah adalah SDA tak terbaharukan yang suatu saat bisa habis. Tidak mau tahu bahwa harga minyak tanah disubsidi oleh pemerintah dan tidak akan selamanya pemerintah dapat menaggungnya. Ketika pemerintah mulai mengkonversi minyak tanah ke gas dan minyak tanah mulai hilang dari pasar mereka kaget dan marah,  "Who moved my minyak tanah?".

Sniff dan Scurry : setiap hari menjual minyak tanah kepada konsumen, tetap siaga dan semangat untuk berjaga-jaga sewaktu-waktu ada kondisi yang tidak menyenangkan. Ketika konversi minyak ke gas dilakukan pemerintah, mereka sadar dan segera mengambil tindakan untuk mencari lahan usaha baru.

Hem dan Haw marah. Merasa pemerintah tidak adil melakukan program itu. Dalam pikiran mereka tidak mungkin minyak tanah akan digantikan oleh gas. Hari berikutnya Hem masih tidak percaya program ini terus bergulir. Ia masih tetap menunggu dan menunggu, serta percaya pemerintah akan meninjau ulang program ini. Haw awalnya sama dengan Hem. Tapi lambat laun Haw sadar bahwa minyak tanah memang sudah seharusnya mulai dikonversi ke gas untuk meringankan biaya subsidi 60 milayar per tahun yang ditanggung pemerintah. Tetapi ia takut gagal mencari lahan pekerjaan baru, apalagi belum pasti ia mendapat yang lebih baik dari sekarang.

Mengapa Hem tetap bertahan dengan pekerjaan sebagai pengecer minyak tanah? Merasa nyaman dengan pekerjaan itu. Takut gagal jika mencoba pekerjaan lain. Tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Selalu mengeluh dan tidak berusaha mencari jalan keluar. Frustasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Sniff dan Scurry lebih sigap. Mereka menyadari keadaan pemerintah sekarang tidak mampu untuk terus menerus mensubsidi minyak tanah. Mereka bersiap mencari lahan usaha baru. Tidak takut gagal, trial and error. Tidak terpaku pada apa yang mereka miliki dan capai sekarang, selalu mencari sesuatu yang baru.

Apa yang dapat kita ambil dari kisah mereka? Scurry, Sniff, Hem dan Haw adalah bagian dari diri kita. Scurry dan Sniff adalah Keberanian, sedangkan Hem dan Haw adalah Pemikiran dan Pertimbangan. Keputusan memang perlu Hem dan Haw, tapi harus diikuti keberanian, kecepatan, dan kesigapan bertindak ala Scurry dan Sniff.

Satu kuncinya : Managemen Perubahan!

Tulisan ini memang baru asal ngomong yang saya sendiri belum tentu bisa melakukannya. Tapi setidaknya semoga bisa membuka wawasan kita untuk selalu bersiap menghadapi perubahan yang pasti akan terjadi dalam hidup kita. Kita tidak akan terus menerus berada dalam zona nyaman kita saat ini. Perubahan itu pasti ada. Apa jadinya dunia tanpa perubahan?

Diadaptasi dari Who Moved My Cheese, dan disarikan dari berbagai sumber.


   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments