PT DI Pailitnya Minggu Depan aja Napa?!

Pengadilan Niaga teleh memumutus pailit PT DI tempo hari. Hakim beranggapan PT DI tidak mampu melunasi uang kompensasi pensiun berdasar kesepakatan sebelumnya. Menteri negara BUMN merespon untuk banding atas putusan ini demi menyelamatkan PT DI.
Sayang sekali rasanya jika negera ini tidak lagi punya industri pesawat. Mungkin agak subjektif kedengarannya kalau saya ngomong ini. Tapi memang kelihatannya harus diakui kalau PT DI lemah dibidang bisnisnya. Apalagi setelah dihantam badai krisis moneter yang tiba saat IPTN berada di puncak.
Pesawat udara adalah hasil implementasi dari berbagai bidang ilmu. Mungkin itu lah salah satu pentingnya keberadaan industri pesawat. Dulu, IPTN adalah gerbang teknologi Indonesia. Saya bilang dulu karena memang saat itu visinya adalah alih teknologi. Sedangkan pasca krisis moneter adalah hanya sekedar bertahan hidup.
Secara kualitas teknis, saya rasa PT DI masih sangat layak dipertahankan. Buktinya hingga saat ini masih dipercaya Airbus untuk membuat bagian ketiak sayap pesawat jumbojet A380. Hanya saja sayangnya PT DI kurang berkembang dibidang bisnisnya. Mungkin ini bisa menjadi pelajaran berharga, bahwa industri pesawat tidak hanya butuh insinyur teknik tetapi peran ahli ekonomi, manajemen dan bisnis tidak kalah pentingnya.
Lalu bagaimana sekarang setelah PT DI diputus pailit? Saya teringat saat temu alumni Teknik Penerbangan ITB yang tentu saja juga dihadiri ’alumni-alumni’ IPTN beberapa bulan lalu. Mereka berkesimpulan bahwa dunia dirgantara Indonesia harus tetap maju dengan ataupun tanpa PT DI. Bagaimanapun transportasi udara pasti akan berkembang jauh lebih pesat dibanding transportasi darat dan laut.
Oya, saat ini di Bandung sedang digelar Regional Conference – Aerospace Science Technology and Industry (RC-ASTI) 2007. Konferensi ini menghadirkan Profesor Mulder, seorang profesor bidang Aircraft Control System and Simulation dari TU Delft, Belanda sebagai pembicara kunci. Agenda esok hari adalah kunjungan ke PT DI dan NTP. Waduh, malu rasanya jika harus membawa Prof Mulder melihat industri dirgantara indonesia yang sedang ‘sakit kritis’. Belum lagi sama peserta lain dari negara tetangga kita yang sekarang mulai sok itu. Argh… Pailitnya diputus minggu depan aja napa?!!