Mungkin dulu masih agak asing jika kita mendengar kata aerodinamika. Tapi sepertinya sudah tidak lagi sekarang. Bayangkan, iklan sepeda motor saja kini sudah memakai kata itu. Mereka bilang, "New Bebek X kini tampil lebih aerodinamis!". Begitu katanya. Padahal apa benar aspek aerodinamika punya peran besar pada produk mereka? Ya namanya juga iklan. Bahasanya pun harus menjual. Kata aerodinamis pun dipakai untuk menunjukkan ke-hightech-annya.
Lalu apa sih sebenarnya aerodinamika itu? Aerodinamika adalah cabang ilmu Teknik Penerbangan yang mempelajari karakteristik gerak aliran udara disekitar benda untuk mengetahui distribusi tekanan disekitar benda tersebut dan menghitung gaya serta momen yang dibangkitkan. Tapi sudahlah, lupakan saja jika kalimat tadi terlalu sulit dimengerti.
Awalnya aerodinamika adalah ilmu kunci yang menjawab keinginan manusia untuk terbang. Pesawat udara adalah bukti nyata aplikasi aerodinamika. Namun, aerodinamikan tidak lah sesempit itu. Kini ia telah merambah ke bidang lain. Di pergulatan konstruktor Formula 1 jangan ditanya lagi. Computational Fluid Dynamics sudah menjadi menu wajib disana. Ferrari pun punya terowongan angin untuk menguji aspek aerodinamika mobil mereka. Pada jembatan bentang panjang, efek aliran angin tidak bisa lagi diabaikan. Maka muncul lah cabang ilmu aeroelastisitas. Baru-baru ini malah dikenal istilah Vortex Induced Vibration (VIV) dan flutter pada jembatan bentang panjang. Entah apalagi itu.
Jika aerodinamika telah sampai ke sepeda motor, jangan-jangan nanti muncul diiklan TV : sendok teh yang dirancang lebih aerodinamis. Mampu mengaduk kopi 100 lebih baik karena vortek (pusaran) yang dihasilkan saat mengaduk lebih sempurna. Bukan aerodinamika lagi sih, lebih cocok hidrodinamika. Tapi ya sama saja, hanya beda media kerja. Sama-sama satu induk : Fluid Mechanics.
Aerodinamika memang indah dan powerfull. Tapi ya tetap saja, walaupun kuliah Mekanika Fluida, Aerodinamika Pesawat 1, dan Aerodinamika Pesawat 2 telah berlalu dan kini sedang menjalani kuliah Aerodinamika Pesawat 3, tetap saja saya masih belum ngerti. Saya memang tidak secerdas mbah Ludwig Prandtl atau om John D Anderson dan tante Ira Abbot.
Udah dulu ah, saya mau ngapalin rumus Navier-Stokes dulu biar bisa lulus Aero 3.